HAMBAALLAH.ID, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumidin, Terbitan Darul Ma’rifah, Beirut, 2012, Jilid I, hal. 234 mengungkapkan kunci meraih kesempurnaan puasa.
Untuk meraih kesempurnaan puasa dan menjauhi hal-hal yang membatalkan pahala puasa adalah menjaga semua anggota tubuh dari perbuatan dosa, maksiat, dan sia-sia. Anggota tubuh tentu mencakup semua organ yang kita miliki, baik yang zahir maupun yang batin, mulai dari mata, lisan, telinga, hidung, tangan, kaki, hingga hati.
Penglihatan, pada saat berpuasa, mata pun harus diajak berpuasa dari memandang perkara-perkara yang tercela, hina, dari segala yang dapat merusak keadaan hati, juga dari segala hal yang dapat melalaikan dzikir kepada Allah SWT.
Baca juga :Nuzulul Quran Proses Diturunkannya Al Quran
Ingatlah bahwa sejatinya penglihatan adalah salah satu panah Iblis, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ لَعَنَهُ اللهُ فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفاً مِنَ اللهِ أَتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
Artinya, “Pandangan itu salah satu panah beracun milik Iblis yang dikutuk oleh Allah. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Dia akan mendatangkan keimanan kepadanya sehingga akan mendapatkan manisnya keimanan dalam hatinya,” (HR. Al-Hakim).
Baca juga :Meraih Lailatul Qadar Melalui Itikaf
Anggota tubuh selanjutnya yang harus diajak berpuasa adalah lisan. Maksud puasa lisan adalah puasa dari ucapan yang sia-sia, perkataan dusta, fitnah, kotor, kasar, termasuk senda gurau yang berlebihan yang dapat menyakitkan dan menimbulkan permusuhan dengan sesama.
Jika lisan sudah mampu diajak puasa, maka puasa sejalan dengan apa yang disampaikan Baginda Rasul SAW:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا: فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
Baca juga :Amalan Yang Dikerjakan Pada Malam Lailatul Qadar
Artinya, “Puasa itu ibarat tameng. Maka jika salah seorang saja di antara kalian berpuasa, maka janganlah berbuat keji dan jahil. Dan jika ada orang yang memerangi atau mencelamu, maka sampaikan, ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.’” (HR Abu Dawud)
Anggota tubuh selanjutnya adalah pendengaran. Berpuasa dari mendengarkan kata-kata yang keji dan kotor. Walau hanya mendengar, namun ingat bahwa dosanya sama dengan orang yang mengucapkannya. Demikian sebagaimana yang pernah disampaikan Rasulullah SAW.
اَلْمُغْتَابُ وَالْمُسْتَمِعُ شَرِيْكَانِ فِي الْإِثْمِ
Artinya, “Orang yang mengumpat dan orang mendengarkannya adalah sama-sama dalam dosanya,” (HR. Ath-Thabrani).
Selanjutnya anggota tubuh yang harus kita jaga adalah tangan dan kaki dari segala perkara yang terlarang. Tak terkecuali perut dari makanan yang syubhat apalagi yang haram pada saat sahur dan berbuka. Sebab, apa artinya berpuasa, jika kita berbuka dengan makanan yang tak halal.
Dalam berpuasa, jangankan yang tidak halal, yang halal pun dibatasi dan tidak boleh berlebihan. Sebab, perkara yang berlebihan itu selanjutnya akan mencelakakan. Di sini kita harus ingat bahwa salah satu tujuan puasa adalah mengurangi makanan yang halal dan meninggalkan yang haram. Puasa kita jangan sampai termasuk yang disampaikan Rasulullah SAW.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Artinya, “Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapat bagian apa-apa dari puasanya selain haus dan lapar,” (HR. An-Nasa’i).
Terakhir, anggota tubuh yang wajib kita ajak berpuasa adalah hati. Saat berpuasa, hati diajak berpuasa dari memikirkan perkara yang sia-sia, bersifat duniawi, menjauhkan diri dari Allah. Sebaliknya, saat berpuasa hati harus selalu diajak ingat dan dekat dengan Dzat yang memerintah puasa, yakni Allah SWT.
Usai berbuka, dalam hati pasrahkan puasa kita kepada Allah. Di samping berharap rahmat dan ridha-Nya, hati kita juga harus memiliki rasa takut dan waswas. Takut jika puasa kita ditolak dan jauh dari diridhai-Nya. Dan perasaan ini, sebaiknya tidak hanya dalam ibadah puasa saja, tetapi dalam setiap kita usai menjalankan ibadah.
Menurut ulama hakikat, diterimanya amal itu ditandai oleh sampainya amal kepada yang dituju. Mereka menyadari bahwa tujuan puasa adalah meniru salah satu akhlak Allah dan sifat para malaikat-Nya. Tidak makan, tidak minum, dan tidak mengumbar hawa nafsu.
Ketika seorang hamba sudah mampu menahan hawa nafsu dan mengendalikan keinginan syahwatnya, maka martabatnya akan ditinggikan, bahkan lebih tinggi dari derajat para malaikat. Sebaliknya, jika hamba tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, tidak mampu memfungsikan hati, mata, dan pendengarannya, maka bisa saja ia lebih hina dari makhluk tak berakal. Demikian seperti yang diungkap dalam surah Al-A’raf [7]: 179.
Semoga kita diberi kemampuan untuk menyempurnakan ibadah puasa kita dengan mempuasakan seluruh anggota tubuh kita, baik anggota zahir maupun yang batin. Dan semoga kita semua berhasil meraih derajat takwa dan sukses meraih ridha Allah SWT. (sumber:nu)














