.

Nuzulul Quran Proses Diturunkannya Al Quran

HambaAllah.id, 16/03/2025, 12:53 WIB

Ilustrasi

HAMBAALLAH.ID, Al-Quran adalah mukjizat terbesar yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, berfungsi sebagai pedoman bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Berdasarkan catatan sejarah, Nuzulul Quran, yaitu momen turunnya Al-Quran, berlangsung pada bulan suci Ramadhan.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”   

Dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa selain Al-Quran, sejumlah kitab suci lainnya juga diturunkan pada bulan Ramadhan. Shuhuf Ibrahim, misalnya, diyakini diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diterima Nabi Musa pada hari keenam Ramadhan, sementara Injil diberikan kepada Nabi Isa pada hari ketiga belas Ramadhan. Informasi ini dikutip dari hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Watsilah bin Asqa’ (Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, [Beirut: Muassasah Ar-Risalah: 2006], juz III, halaman 161).

Baca juga :

Meraih Lailatul Qadar Melalui Itikaf

Secara keseluruhan, Al-Quran, baik dari ayat-ayat yang jelas maupun yang memiliki makna tersembunyi, serta dari nasikh hingga mansukh, berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Quran juga dilengkapi dengan bayyinât, yaitu ayat-ayat yang menjelaskan hukum halal dan haram, memberikan nasihat, serta aturan hukum. Di sisi lain, Al-Furqân merujuk pada pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Makna "Turun" Dalam Tafsir Al-Misbah, Profesor Quraish Shihab menerangkan bahwa istilah "turun" menggambarkan perpindahan dari posisi yang tinggi ke posisi yang lebih rendah, baik dalam arti material maupun non-material.

Pada awalnya, sebelum abad ketiga Hijriyah, para ulama salaf enggan menggunakan istilah "turun" untuk menjelaskan proses wahyu Al-Quran. Hal ini dikarenakan istilah tersebut sering dikaitkan dengan konsep waktu dan tempat, sedangkan Al-Quran dianggap qadim—sudah ada sebelum penciptaan waktu dan tempat (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, [Jakarta, Lentera Hati: 2005], juz XV, halaman 423).

Baca juga :

Amalan Yang Dikerjakan Pada Malam Lailatul Qadar

Pada era berikutnya, para ulama khalaf tetap memegang keyakinan bahwa Al-Quran bersifat qadim, namun mereka menafsirkan istilah "turun" sebagai diperkenalkan atau ditampakkannya wahyu tersebut ke bumi.

Sebelum diturunkan, keberadaan Al-Quran belum diketahui manusia. Baru setelah Nabi Muhammad menerima wahyu tersebut, Al-Quran menjadi nyata dan hadir di hadapan manusia. Dari Allah Yang Mahatinggi, wahyu tersebut diberikan kepada manusia, sehingga terjadi perpindahan kedudukan dan derajat. Penjelasan ini sesuai dengan makna "turun" yang diungkapkan sebelumnya oleh Quraish Shihab.

Tahapan Wahyu Mayoritas ulama, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi, sepakat bahwa wahyu Al-Quran melalui dua tahapan. Tahap pertama adalah penurunan secara sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Tahap kedua adalah proses penurunan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang terjadi.

Baca juga :

Akibat Serangan Udara Israel, Seorang Wanita Hamil dan Putranya Tewas di Gaza

Pendapat ini selaras dengan keterangan Profesor Quraish Shihab yang lebih menyoroti pada sisi bahasa. Menurutnya, setidaknya ada dua kata yang berkaitan dengan proses turunnya Al-Quran, yaitu kata anzala (اَنْزَلَ) dan nazzala (نَزَّلَ). Kedua kalimat tersebut merupakan derivasi dari kata dasar nazala (نَزَلَ) yang artinya turun. (Shihab, XV/422).    

Lafadz anzala (اَنْزَلَ) umumnya digunakan untuk menunjukkan turunnya Al-Quran secara utuh sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit dunia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qadr ayat 1:


اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ 

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatulqadar.”

Sedangkan kata nazzala (نَزَّلَ) didefinisikan dengan proses turunnya Al-Quran secara bertahap selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Hal ini sebagaimana tercantum dalam surat Al-Isra ayat 106:


وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا

Artinya, “Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.”   

Mengingat Ramadhan ini adalah bulan mulia yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sudah selayaknya kita sebagai umat Islam untuk berusaha memperbanyak tadarus Al-Quran, sekaligus menjadikannya sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a‘lam. (sumber:nu)
 

Penulis: Rijal | Editor: Rijal
×